KARAKTERISTIK HHBK dan CARA PEMANFAATAN NIRA
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
171201069
Budidaya Hutan 5
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2019
Nira aren (Arenga pinnata Merr)
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Pemanfaatan
tanaman aren di Indonesia sudah berlangsung lama, namun agak lambat
perkembangannya menjadi komoditi agribisnis karena
sebagian tanaman aren yang dihasilkan adalah tumbuh secara alamiah atau belum
di budidayakan. Namun, karena fungsi dan manfaatnya yang besar, pohon ini mulai
dijadikan tanaman budidaya di Indonesia.
Hasil hutan bukan kayu di Indonesia
sudah sejak lama menjadi komponen penting dan dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar hutan walaupun pada umumnya masih merupakan kegiatan musiman atau
sambilan saja. Departemen Kehutanan
melaporkan bahwa pengelolaan hasil hutan bukan kayu mempunyai peranan yang
cukup besar dalam perekonomian bangsa yaitu 30 juta penduduk “secara langsung
mengandalkan hidupnya pada sektor kehutanan yaitu mengambil dan mengelola hasil
hutan bukan kayu” sebagai mata pencaharian dan sebagai wadah penyerap tenaga
kerja. Pertambahan jumlah penduduk yang besar menyebabkan kebutuhan pokok
semakin meningkat termasuk kebutuhan pangan berupa gula. Besarnya peranan gula
dalam kehidupan sehari-hari dan bidang industri, menyebabkan kebutuhan akan
gula terus meningkat. Menurut Musa dan
Mursalim (2007), total kebutuhan gula nasional tahun 2006 mencapai 2,3 juta
ton. Peningkatan tersebut akan terus
bertambah dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya pendapatan dan
berkembangnya industri yang menggunakan gula sebagai bahan baku utamanya. Untuk
menanggulangi masalah tersebut maka perlu diadakan diversifikasi bahan baku
gula yang lebih murah dan mudah, terutama dari tanaman non tebu.
Untuk menjaga terpenuhinya keseimbangan
manfaat lingkungan, manfaat sosial budaya dan manfaat ekonomi, pemerintah
menetapkan dan mempertahankan kecakupan luas kawasan hutan dalam daerah aliran
sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional. Sumberdaya hutan
mempunyai peran dalam penyediaan bahan baku industri, sumber pendapatan,
menciptakan lapangan dan kesempatan kerja. Hasil hutan merupakan komoditi yang
dapat diubah menjadi hasil olahan dalam upaya mendapat nilai tambah serta
membuka peluang kesempatan kerja serta kesempatan berusaha. Hasil hutan
kayu terbukti lebih bernilai daripada hasil hutan kayu dalam jangka panjang
(Balick and Mendelsohn 1992).
Masyarakat sekitar hutan bakau di desa
Minanga III yang berstatus sebagai hutan lindung, yang memiliki luas sebesar
284 hektar (Sumber : Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Minahasa Tenggara). Pada umumnya masyarakat yang ada bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan.
Di samping itu, juga mengelola hasil hutan yang diperoleh dari kawasan hutan
lindung tersebut. Hasil yang selama ini dimanfaatkan adalah beragam jenis
tumbuhan obat, tumbuhan nipah yang
dimanfaatkan untuk pembuatan atap rumbia, dan beragam fauna yang dimanfaatkan
sebagai bahan makanan. Kawasan hutan
tersebut termasuk dalam Daerah Aliran Sungai Makalu dan Abuang. Penelitian ini dilakukan dalam rangka
pengelolaan kawasan hutan lindung berbasis masyarakat termasuk di dalamnya
pemberdayaan masyarakat sekitar. Salah satu langkah yang diperlukan adalah
menginventarisasi manfaat ekonomi hasil hutan bukan kayu hayati bagi masyarakat
sekitar hutan.
1.2
Rumusan masalah
1. Klasifikasi pohon nira
2. Penyebaran dan kegunaan nira aren
3. Nilai ekonomi nira aren
1.3
Tujuan
1. Untuk mengetahui klasifikasi nira
aren
2. Untuk mengetahui penyebaran dan
kegunaan nira aren
3. Untuk mengetahui nilai ekonomi nila
aren
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Klasifikasi Nira
aren (Arenga pinnata Merr)
Kingdom:
|
|
Divisi:
|
|
Kelas:
|
|
Ordo:
|
|
Famili:
|
|
Genus:
|
|
Spesies:
|
A.
pinnata
|
Pohon aren adalah salah satu jenis
tumbuhan palma yang memproduksi buah, nira dan pati atau tepung di dalam
batang. Hasil produksi aren ini semuanya dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai
ekonomi. Akan tetapi hasil produksi aren yang banyak diusahakan oleh masyarakat
adalah nira yang diolah untuk menghasilkan gula aren dan produk ini memiliki
pasaryang sangat luas. Negara - negara yang membutuhkan gula aren dari
Indonesia adalah Arab Saudi, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Jepang
dan Kanada (Sapari, 1994).
2.2 Penyebaran dan Kegunaan Nira Aren
Nama-nama Daerah
untuk tanaman Aren
Aren (Arrenga pinnata) mempunyai banyak nama daerah seperti : bakjuk/bakjok (Aceh), pola/paula (Karo), bagot (Toba), agaton/bargat (Mandailing), anau/neluluk/nanggong (Jawa), aren/kawung (Sunda), hanau (dayak,Kalimantan), Onau (Toraja, Sulawesi), mana/nawa-nawa (Ambon, Maluku).
Banyak nama daerah yang diberikan untuk Aren di Indonesia. Hal ini karena tingkat penyebarannya sangat luas.
Nama-nama daerah tanaman Aren di Indonesia, antara lain : bak juk (Aceh), ijuk (Gayo), pangguh (Alas), pola, paula (Karo), bagot, agotan (Toba), bargot (Angkola, Mandailing), anau (Simalur), alaha (Bajak), ache, peto (Nias), poula (Mentawai), bagat, bergat, hanau (Kerinci), kawung (Sunda), aren (Jawa, Madura), jaka, hano (Bali), pola (Sumbawa), nao (Bima), kalotu (Sumba), moka (Sawu), moke (Flores), nau, peletuk, gemuti (Timor), seho (Manado), inru (Sulawesi Selatan), enau (Kalimantan) dan segeru (Maluku). Sedangkan nama asing Aren adalah sugar palm.
Kegunaan Pohon Aren.
Pohon aren dapat dimanfaatkan, baik berfungsi sebagai konservasi, maupun fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi.
Fungsi Konservasi
Pohon aren dengan perakaran yang dangkal dan melebar akan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya erosi tanah. Demikian pula dengan daun yang cukup lebat dan batang yang tertutup dengan lapisan ijuk, akan sangat efektif untuk menahan turunnya air hujan yang langsung kepermukaan tanah.
Pengelolaan dan pembudidayaan tanaman aren perlu dilakukan mengingat tanaman aren memiliki keunggulan dalam mencegah erosi tanah terutama pada daerah-daerah yang terjal karena akar tanaman aren dapat mencapai kurang lebih enam meter pada kedalam tanah, sehingga dapat tumbuh baik pada tebing-tebing dan akan sangat baik sebagai pohon pencegah erosi longsor.
Fungsi Produksi
Fungsi produksi dari pohon aren dapat diperoleh miulai dari akar, batang, daun, bunga dan buah.
Akar
Di Jawa akar aren digunakan untuk berbagai Obat Tradisional (Heyne, 1927; Dongen, 1913 dalam Burkil 1935). Akar segar dapat menghasilkan arak yang dapat digunakan sebagai obat sembelit, obat disentri dan obat penyakit paru-paru.
Batang
Batang yang keras digunakan sebagai bahan pembuat alat-alat rumah tangga dan ada pula yang digunakan sebagai bahan bangunan. Batang bagian dalam dapat menghasilkan sagu sebagai sumber karbohidrat yang dipakai sebagai bahan baku dalam pembuatan roti, soun, mie dan campuran pembuatan lem (Miller, 1964). Sedangkan ujung batang yang masih muda (umbut) yang rasanya manis dapat digunakan sebagai sayur mayor (Burkil, 1935).
Batang aren sering dimanfaatkan untuk jembatan dan saluran air (talang) setelah dibelah memanjang dan diambil empulurnya (sagu atau pati). Batang aren juga bisa dimanfaatkan untuk galar-galar dan bubungan atap rumah.
Bagian luar batang aren atau ruyung (sunda) berwarna hitam dan sangat keras. Biasanya bagian ini dimanfaatkan untuk membuat perkakas rumah tangga dan untuk keperluan lain, seperti gagang pisau, tangkai kapak, cangkul, dan juga tongkat. Bagian ini sering digunakan untuk membuat bahan usuk atau kaso penyangga genting rumah. Karena sifatnya yang keras, bagian luar batang aren ini juga sangat baik untuk kayu bakar.
Di dalam batang aren terdapat sagu (pati) yang bisa dibuat tepung. Cara menghasilkan tepung aren tidaklah sulit. Mula-mula batang aren dipotong-potong sepanjang 1 m, kemudian dibelah dan empulur yang terdapat di dalamnya dikeruk dengan kapak pengeruk. Di pabrik, proses pengambilan empulur dilakukan dengan membelah potongan batang aren menjadi beberapa bagian, kemudian empulur diparut dengan mesin pembarut. Selanjutnya empulur hasil pemarutan tadi diremas-remas bersama air yang mengalir menuju bak penampungan dan ampasnya disingkirkan. Di dalam bak penampung, pati akan mengendap. Setelah semua pati aren mengendap, kolam (bak) dikeringkan dan pati diambil. Pati aren yang masih basah dijemur sampai benar-benar kering dan diperoleh tepung aren yang halus atau aci kawung
Tepung aren banyak digunakan dalam pembuatan aneka jenis makanan, seperti bakso dan bihun. Ampas hasil samping dari pembuatan tepung aren ini juga sangat baik untuk media tanam jamur. Tetapi banyak pula pabrik tepung aren yang membuang ampas tersebut ke sungai atau ditumpuk saja, sehingga menimbulkan pencemaran air dan udara.
Daun
Daun muda, tulang daun dan pelapah daunnya, juga dapat dimanfaatkan untuk pembungkus rokok, sapu lidi dan tutup botol sebagai pengganti gabus.
Di daerah pedesaan, daging atau gabus dari pelepah daun aren banyak dipakai sebagai bahan pembuatan mainan anak-anak seperti mobil-mobilan. Selain itu juga baik dipakai sebagai penyumbat botol, saluran air dari logam atau bambu, dan lain-lain. Pelepah daun aren yang kering bersama daunnya banyak dimanfaatkan penduduk sebagai kayu bakar. Sedang abunya sering dimanfaatkan penduduk sebagai penyembuh luka, bedak tradisional, dan juga untuk pupuk tanaman sebab mengandung mineral yang cukup tinggi. Pelepah daun juga sering dipakai untuk alat pemikul hasil kebun.
Tulang-tulang anak daun aren banyak dipakai untuk pembuatan sapu lidi, tusuk sate dan keranjang. Daun aren yang masih muda juga digunakan sebagai pembungkus tembakau (klobot ) untuk merokok setelah dijemur atau dikeringkan. Daun aren yang tuan dapat juga digunakan untuk atap rumah seperti halnya daun nipah.
Bunga
Tangkai bunga bila dipotong akan menghasilkan cairan berupa nira yang mengandung zat gula dan dapat diolah menjadi gula aren atau tuak (Steenis et.al.,1975).
Bunga jantan
Bunga aren jantan atau langrai (Sunda), biasanya diperoleh setelah tangkai bunga dipotong untuk disadap niranya. Bunga ini dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, terutama ternak kambing.
Buah
Buahnya dapat diolah menjadi bahan makanan seperti kolang-kaling yang banyak digunakan untuk campuran es. kolak atau dapat juga dibuat manisan kolang-kaling.
Bila buah aren yang belum terlalu matang dipotong, maka akan terlihat bijinya yang kenyal berwarna putih jernih (bening). Daging biji inilah yang disebut kolang-kaling dan bisa digunakan sebagai bahan makan.
Kolang-kaling memang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Pada saat bulan puasa, permintaan kolang-kaling melonjak sangat tajam. Masyarakat yang beragama Islam sering menjadikan kolang-kaling sebagai menu khas di bulan puasa. Baik sebagai makanan untuk berbuka puasa ataupun santapan ringan setelah melakukan shalat tarawih.
Harga kolang-kaling di bulan puasa juga lebih mahal dibanding bulan-bulan lainnya. Pada tahun 1992, harga rata-rata kolang-kaling Rp 500,00/kg, sedang pada bulan puasa antara Rp 1.000,00 – Rp 2.000,00/kg.
Prospek pasar kolang-kilang ini juga cukup cerah sebagai mata dagangan ekspor. Konon Indonesia telah mengekspor kolang-kaling sejak tahun 1970-an serta terus berlanjut hingga sekarang. Negara-negara pembeli kolang-kaling Indonesia selama ini antara lain Amerika Serikat, Saudi Arabia, Belanda, Hongkong, Jepang, Taiwan, dan beberapa negara kawasan Eropa.
Kolang–kaling banyak digunakan sebagai bahan campuran beraneka jenis makanan maupun minuman. Antara lain dalam pembuatan kolak, ronde, ice jumbo, cake, minuman kaleng, es campur, manisan, dan lain-lain. Bahkan masyrakat Jawa Barat yang memiliki minuman khas berupa bajigur, selalu menambahkan kolang-kaling ke dalamnya.
Jika orang Sunda menyebut kolang-kaling itu dengan cangkaleng atau caruluk, maka warga Jakarta menyebutnya buah atep. Boleh jadi, munculnya sebutan buah atep tersebut karena ijuk tanaman ini biasa digunakan untuk atap bangunan. Sejalan dengan berkembangnya bidang upa-boga, sekarang muncul pula aneka produk makanan baru yang menggunakan kolang-kaling sebagai bahannya, yaitu kolang–kaling gengsi, kolang-kaling manja, dan kolang-kaling berjuruh.
Kolang-kaling selain bisa dimanfaatkan untuk bahan pencampuran aneka makanan dan minuman, kandungan seratnya juga baik sekali untuk kesehatan. Serat kolang-kaling dan serat dari bahan makana lain yang masuk ke dalam tubuh menyebabkan proses pembuangan air besar teratur, sehingga bisa mencegah kegemukan atau obesitas, penyakit jantung koroner, kanker usus, dan penyakit kencing manis.
Aren (Arrenga pinnata) mempunyai banyak nama daerah seperti : bakjuk/bakjok (Aceh), pola/paula (Karo), bagot (Toba), agaton/bargat (Mandailing), anau/neluluk/nanggong (Jawa), aren/kawung (Sunda), hanau (dayak,Kalimantan), Onau (Toraja, Sulawesi), mana/nawa-nawa (Ambon, Maluku).
Banyak nama daerah yang diberikan untuk Aren di Indonesia. Hal ini karena tingkat penyebarannya sangat luas.
Nama-nama daerah tanaman Aren di Indonesia, antara lain : bak juk (Aceh), ijuk (Gayo), pangguh (Alas), pola, paula (Karo), bagot, agotan (Toba), bargot (Angkola, Mandailing), anau (Simalur), alaha (Bajak), ache, peto (Nias), poula (Mentawai), bagat, bergat, hanau (Kerinci), kawung (Sunda), aren (Jawa, Madura), jaka, hano (Bali), pola (Sumbawa), nao (Bima), kalotu (Sumba), moka (Sawu), moke (Flores), nau, peletuk, gemuti (Timor), seho (Manado), inru (Sulawesi Selatan), enau (Kalimantan) dan segeru (Maluku). Sedangkan nama asing Aren adalah sugar palm.
Kegunaan Pohon Aren.
Pohon aren dapat dimanfaatkan, baik berfungsi sebagai konservasi, maupun fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi.
Fungsi Konservasi
Pohon aren dengan perakaran yang dangkal dan melebar akan sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya erosi tanah. Demikian pula dengan daun yang cukup lebat dan batang yang tertutup dengan lapisan ijuk, akan sangat efektif untuk menahan turunnya air hujan yang langsung kepermukaan tanah.
Pengelolaan dan pembudidayaan tanaman aren perlu dilakukan mengingat tanaman aren memiliki keunggulan dalam mencegah erosi tanah terutama pada daerah-daerah yang terjal karena akar tanaman aren dapat mencapai kurang lebih enam meter pada kedalam tanah, sehingga dapat tumbuh baik pada tebing-tebing dan akan sangat baik sebagai pohon pencegah erosi longsor.
Fungsi Produksi
Fungsi produksi dari pohon aren dapat diperoleh miulai dari akar, batang, daun, bunga dan buah.
Akar
Di Jawa akar aren digunakan untuk berbagai Obat Tradisional (Heyne, 1927; Dongen, 1913 dalam Burkil 1935). Akar segar dapat menghasilkan arak yang dapat digunakan sebagai obat sembelit, obat disentri dan obat penyakit paru-paru.
Batang
Batang yang keras digunakan sebagai bahan pembuat alat-alat rumah tangga dan ada pula yang digunakan sebagai bahan bangunan. Batang bagian dalam dapat menghasilkan sagu sebagai sumber karbohidrat yang dipakai sebagai bahan baku dalam pembuatan roti, soun, mie dan campuran pembuatan lem (Miller, 1964). Sedangkan ujung batang yang masih muda (umbut) yang rasanya manis dapat digunakan sebagai sayur mayor (Burkil, 1935).
Batang aren sering dimanfaatkan untuk jembatan dan saluran air (talang) setelah dibelah memanjang dan diambil empulurnya (sagu atau pati). Batang aren juga bisa dimanfaatkan untuk galar-galar dan bubungan atap rumah.
Bagian luar batang aren atau ruyung (sunda) berwarna hitam dan sangat keras. Biasanya bagian ini dimanfaatkan untuk membuat perkakas rumah tangga dan untuk keperluan lain, seperti gagang pisau, tangkai kapak, cangkul, dan juga tongkat. Bagian ini sering digunakan untuk membuat bahan usuk atau kaso penyangga genting rumah. Karena sifatnya yang keras, bagian luar batang aren ini juga sangat baik untuk kayu bakar.
Di dalam batang aren terdapat sagu (pati) yang bisa dibuat tepung. Cara menghasilkan tepung aren tidaklah sulit. Mula-mula batang aren dipotong-potong sepanjang 1 m, kemudian dibelah dan empulur yang terdapat di dalamnya dikeruk dengan kapak pengeruk. Di pabrik, proses pengambilan empulur dilakukan dengan membelah potongan batang aren menjadi beberapa bagian, kemudian empulur diparut dengan mesin pembarut. Selanjutnya empulur hasil pemarutan tadi diremas-remas bersama air yang mengalir menuju bak penampungan dan ampasnya disingkirkan. Di dalam bak penampung, pati akan mengendap. Setelah semua pati aren mengendap, kolam (bak) dikeringkan dan pati diambil. Pati aren yang masih basah dijemur sampai benar-benar kering dan diperoleh tepung aren yang halus atau aci kawung
Tepung aren banyak digunakan dalam pembuatan aneka jenis makanan, seperti bakso dan bihun. Ampas hasil samping dari pembuatan tepung aren ini juga sangat baik untuk media tanam jamur. Tetapi banyak pula pabrik tepung aren yang membuang ampas tersebut ke sungai atau ditumpuk saja, sehingga menimbulkan pencemaran air dan udara.
Daun
Daun muda, tulang daun dan pelapah daunnya, juga dapat dimanfaatkan untuk pembungkus rokok, sapu lidi dan tutup botol sebagai pengganti gabus.
Di daerah pedesaan, daging atau gabus dari pelepah daun aren banyak dipakai sebagai bahan pembuatan mainan anak-anak seperti mobil-mobilan. Selain itu juga baik dipakai sebagai penyumbat botol, saluran air dari logam atau bambu, dan lain-lain. Pelepah daun aren yang kering bersama daunnya banyak dimanfaatkan penduduk sebagai kayu bakar. Sedang abunya sering dimanfaatkan penduduk sebagai penyembuh luka, bedak tradisional, dan juga untuk pupuk tanaman sebab mengandung mineral yang cukup tinggi. Pelepah daun juga sering dipakai untuk alat pemikul hasil kebun.
Tulang-tulang anak daun aren banyak dipakai untuk pembuatan sapu lidi, tusuk sate dan keranjang. Daun aren yang masih muda juga digunakan sebagai pembungkus tembakau (klobot ) untuk merokok setelah dijemur atau dikeringkan. Daun aren yang tuan dapat juga digunakan untuk atap rumah seperti halnya daun nipah.
Bunga
Tangkai bunga bila dipotong akan menghasilkan cairan berupa nira yang mengandung zat gula dan dapat diolah menjadi gula aren atau tuak (Steenis et.al.,1975).
Bunga jantan
Bunga aren jantan atau langrai (Sunda), biasanya diperoleh setelah tangkai bunga dipotong untuk disadap niranya. Bunga ini dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, terutama ternak kambing.
Buah
Buahnya dapat diolah menjadi bahan makanan seperti kolang-kaling yang banyak digunakan untuk campuran es. kolak atau dapat juga dibuat manisan kolang-kaling.
Bila buah aren yang belum terlalu matang dipotong, maka akan terlihat bijinya yang kenyal berwarna putih jernih (bening). Daging biji inilah yang disebut kolang-kaling dan bisa digunakan sebagai bahan makan.
Kolang-kaling memang sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Pada saat bulan puasa, permintaan kolang-kaling melonjak sangat tajam. Masyarakat yang beragama Islam sering menjadikan kolang-kaling sebagai menu khas di bulan puasa. Baik sebagai makanan untuk berbuka puasa ataupun santapan ringan setelah melakukan shalat tarawih.
Harga kolang-kaling di bulan puasa juga lebih mahal dibanding bulan-bulan lainnya. Pada tahun 1992, harga rata-rata kolang-kaling Rp 500,00/kg, sedang pada bulan puasa antara Rp 1.000,00 – Rp 2.000,00/kg.
Prospek pasar kolang-kilang ini juga cukup cerah sebagai mata dagangan ekspor. Konon Indonesia telah mengekspor kolang-kaling sejak tahun 1970-an serta terus berlanjut hingga sekarang. Negara-negara pembeli kolang-kaling Indonesia selama ini antara lain Amerika Serikat, Saudi Arabia, Belanda, Hongkong, Jepang, Taiwan, dan beberapa negara kawasan Eropa.
Kolang–kaling banyak digunakan sebagai bahan campuran beraneka jenis makanan maupun minuman. Antara lain dalam pembuatan kolak, ronde, ice jumbo, cake, minuman kaleng, es campur, manisan, dan lain-lain. Bahkan masyrakat Jawa Barat yang memiliki minuman khas berupa bajigur, selalu menambahkan kolang-kaling ke dalamnya.
Jika orang Sunda menyebut kolang-kaling itu dengan cangkaleng atau caruluk, maka warga Jakarta menyebutnya buah atep. Boleh jadi, munculnya sebutan buah atep tersebut karena ijuk tanaman ini biasa digunakan untuk atap bangunan. Sejalan dengan berkembangnya bidang upa-boga, sekarang muncul pula aneka produk makanan baru yang menggunakan kolang-kaling sebagai bahannya, yaitu kolang–kaling gengsi, kolang-kaling manja, dan kolang-kaling berjuruh.
Kolang-kaling selain bisa dimanfaatkan untuk bahan pencampuran aneka makanan dan minuman, kandungan seratnya juga baik sekali untuk kesehatan. Serat kolang-kaling dan serat dari bahan makana lain yang masuk ke dalam tubuh menyebabkan proses pembuangan air besar teratur, sehingga bisa mencegah kegemukan atau obesitas, penyakit jantung koroner, kanker usus, dan penyakit kencing manis.
2.3
Nilai Ekonomi Nira Aren
Tanaman aren
merupakan salah satu yang banyak tersebar luas di Indonesia. Penyebaran yang
cukup tinggi ini tidak lepas dari nilai ekonominya yang tinggi sehingga banyak
petani yang menggantungkan hidupnya pada tanaman ini.
Bagian yang paling bernilai ekonomi tinggiu adalah nira, yang biasanya dibuat gula cetak atau gula semut.
Berangkat dari hal tersebut, Balai Penelitian Tanaman Palma menghasilkan Aren Genjah Kutim yang memiliki karakteristik unggul dibanding jenis aren lainnya. Pertama kali dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul pada 14 September 2011 dengan SK. No.3879/Kpts/SR.120/9/2011.
Aren Genjah Kutim merupakan tanaman asli Kabupaten Kutai Timur, dengan penyebaran yang luas terdapat di Kecamatan Teluk Pandan.
Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma Dr.Ir.Ismail Maskromo, MSi mengatakan, karakteristik Aren Genjah Kutim yaitu pohonnya yang mulai berproduksi sekitar lima sampai enam tahun. Aren Genjah Kutim memiliki manfaat dan nilai ekonomi yang tinggi karena setiap mayang dapat menghasilkan nira lebih dari 12 liter per jari dengan lama penyadapan lebih dari dua bulan per mayang.
"Ciri khas ini menjadi nilai tambah dan pembeda dengan Aren tipe Dalam," ujar Ismail.
Nilai tambah tersebut tentunya memberi peluang pengembanganya di daerah sentra aren lainnya di Indonesia untuk meningkatkan pendapatan petani.
"Seleksi sebaiknya dilakukan pada karakter aren yang memiliki keragaman tinggi, terutama yang berhubungan dengan produksi nira, yaitu jumlah tandan bunga jantan, panjang tangkai tandan bunga jantan, diameter tangkai tandan bunga jantan, lama berproduksi dan produksi nira," ujar Ismail.
Saat ini, varietas aren Genjah Kutim telah dikembangkan pada beberapa daerah di Indonesia, antara lain Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat dan Sulawesi Utara.
Potensi produksi benih pohon induk aren Genjah Kutim adalah 4.032 butir/pohon, dan dapat digunakan untuk pengembangan aren seluas 12-13 ha.
Bagian yang paling bernilai ekonomi tinggiu adalah nira, yang biasanya dibuat gula cetak atau gula semut.
Berangkat dari hal tersebut, Balai Penelitian Tanaman Palma menghasilkan Aren Genjah Kutim yang memiliki karakteristik unggul dibanding jenis aren lainnya. Pertama kali dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai varietas unggul pada 14 September 2011 dengan SK. No.3879/Kpts/SR.120/9/2011.
Aren Genjah Kutim merupakan tanaman asli Kabupaten Kutai Timur, dengan penyebaran yang luas terdapat di Kecamatan Teluk Pandan.
Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma Dr.Ir.Ismail Maskromo, MSi mengatakan, karakteristik Aren Genjah Kutim yaitu pohonnya yang mulai berproduksi sekitar lima sampai enam tahun. Aren Genjah Kutim memiliki manfaat dan nilai ekonomi yang tinggi karena setiap mayang dapat menghasilkan nira lebih dari 12 liter per jari dengan lama penyadapan lebih dari dua bulan per mayang.
"Ciri khas ini menjadi nilai tambah dan pembeda dengan Aren tipe Dalam," ujar Ismail.
Nilai tambah tersebut tentunya memberi peluang pengembanganya di daerah sentra aren lainnya di Indonesia untuk meningkatkan pendapatan petani.
"Seleksi sebaiknya dilakukan pada karakter aren yang memiliki keragaman tinggi, terutama yang berhubungan dengan produksi nira, yaitu jumlah tandan bunga jantan, panjang tangkai tandan bunga jantan, diameter tangkai tandan bunga jantan, lama berproduksi dan produksi nira," ujar Ismail.
Saat ini, varietas aren Genjah Kutim telah dikembangkan pada beberapa daerah di Indonesia, antara lain Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat dan Sulawesi Utara.
Potensi produksi benih pohon induk aren Genjah Kutim adalah 4.032 butir/pohon, dan dapat digunakan untuk pengembangan aren seluas 12-13 ha.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Nira aren adalah HHBK tanaman dari suku
palem-paleman yang sering dijumpai diberbagai daerah di Indonesia.
2. Pohon aren dapat dimanfaatkan, baik berfungsi
sebagai konservasi, maupun fungsi produksi yang menghasilkan berbagai komoditi
yang mempunyai nilai ekonomi.
3. Selain nilai ekonomi nira aren juga memiliki nilai
konservasi dan nilai sosial budaya
Saran
Sebaiknya pemerintah lebih meningkatkan pengetahuan
petani aren agar para petani aren dapat meningkatkan produksi nira aren untuk
meningkatkan pendapatan perkapitanya.
DAFTAR PUSTAKA
Balick,
M. J. and R. Mendelsohn. 1992. Assessing the Economic value of Traditional Medicines From Tropical Rain
Forests. Concervation Biology 6:28-30.
Bandini, Y. 1996. Nipah
Pemanis Alami Baru. Penebar
Swadaya.
Jakarta
Jakarta
Bangun,
A. Et al. 2002. Khasiat Dan Manfaat Mengkudu. Penerbit : Agromedia Pustaka.
Jakarta
Departemen Kehutanan.
1996. Materi Penyuluhan I. Pusat
Penyuluhan Kehutanan. Makassar
Penyuluhan Kehutanan. Makassar
Departemen
Kehutanan. Situs HHBK. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/web HHBK
Somaatmadja,
D. 1980. Ketela sebagai Bahan Pembuatan
Gula. Buletin Perhimpunan Ahli Teknologi
Pangan Indonesia, (5).

